Kain Tenun Troso Kebanggaan Kota Ukir Jepara

Kain tenun troso kebanggaan kota ukir Jepara yang kami persembahkan untuk Anda. Jepara dikenal karena industri furniture dan ukirnya yang mendunia bukan hanya di seantero Nusantara semata. Tak ada yang menampik hal itu. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kota di pusat Jawa ini menyimpan sejarahnya dalam balutan kain anyaman khas daerahnya. Adalah Troso, nama kain tenun yang melegenda itu, diberikan nama sesuai kampung kelahirannya, Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Kain tenun ini bukan hanya elok dipandang mata namun sarat pula dengan keunikan motifnya. Simak artikel yang telah kami susun ini untuk mengetahui lebih banyak dan lebih detail tentang kain tenun yang telah melegenda ini. Kain tenun troso masuk dalam kategori kain tenun handmade.

kain tenun troso jepara
photo : kain tenun troso

Bagi Anda pecinta kain tenun yang berada di daerah Solo sekitarnya. Dan jika kebetulan sedang mencari kain tenun dalam jumlah besar, misal seragam tenun untuk keluarga bisa Anda dapatkan dengan penawaran terbaik kami. Kami Luric Fabric yang memiliki segudang kain lurik maupun tenun. Mulai dari tenun teknik ikat, tenun teknik gedog, sampai ATBM dan ATM yang bisa memproduksi kain lurik dalam jumlah besar dengan waktu singkat. Berapa harga kain tenun Troso ? Sebelum kita membahas mengenai harga, mari kita flashback sejarah kain tenun Troso hingga perkembangannya sebagaimana di bawah berikut ini.

Sejarah Perkembangan Kain Tenun Troso

Menurut legendanya, sejarah Kain Tenun Troso dimulai saat masuknya Agama Islam di wilayah Jawa tengah dan sekitarnya. Yaitu pada masa berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Kain ini dipakai pertama kali oleh Mbah Senu dan Nyi Senu saat menemui Ulama Besar Mbah Datuk Gunardi Singorojo saat sedang berdakwah di Desa Troso. Kemudian pada masa awalnya kain tenun ini dibuat khusus sebagai pelengkap pakaian raja. Sejak saat itulah keterampilan membuat kain tenun troso dimiliki oleh warga Desa Troso dan diwariskan secara turun temurun.

Pada sekitar tahun 1935, sebelum masa kemerdekaan Indonesia, para pengrajin Tenun Troso membuat Kain Tenun Gedong. Kemudian saat keahlian mereka semakin berkembang, mereka mulai membuat kain Tenun Pancal, yaitu pada sekitar tahun 1943.

Pada saat tahun 60-an terjadi sebuah perkembangan signifikan pada industri tenun di daerah ini. Dimana saat itu para perajin tenun secara besar-besaran mulai beralih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) menggantikan alat tenun tradisional. Produksi kain tenun lurik, mori dan sarung ikat mengalami perkembangan pesat secara jumlah maupun kualitas. Saat itu adalah masa keemasan dan kejayaan Kain Tenun Troso. Namun pada akhir tahun 70-an industri tenun Troso mulai mengalami kelesuan ekonomi. Banyak perusahaan tenun mengalami gulung tikar. Peristiwa ini diakibatkan karena mulai berdirinya perusahaan tenun besar di Indonesia yang menggunakan Alat Tenun Mesin (ATM). Pengrajin tradisional tak mampu bersaing dalam hal harga sehingga industri tenun tradisional tidak berkembang dan bahkan banyak mengalami kebangkrutan.

Pada awal tahun 80-an, industri Tenun Troso sempat mengalami kebangkitan. Unit-unit usaha di pedesaan sempat tumbuh kembali. Produksi tenun tradisional Troso muncul kembali di pasaran. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Periode sulit mulai menghampiri lagi industri tenun ini sekitar tahun 1985-1988. Kondisi pasar lesu dan banyak pengusaha tenun mengalami kebangkrutan kembali.

Sampai akhirnya Gubernur Jawa Tengah yang menjabat pada waktu itu turun tangan demi menghadapi masalah ini. Lewat Surat Keputusan Gubernur No: 025/219/1988, yang isinya adalah mewajibkan seluruh pegawai pemerintah dan jajarannya di lingkungan propinsi Jawa Tengah untuk memakai produk tenun setiap hari Jumat. Upaya ini terbukti berhasil mendongkrak konsumsi masyarakat dan produksi tenun di Jawa Tengah, terutama di Troso sebagai pusat produksi kain tenun di Jawa Tengah. Para pengusaha tenun pun kembali bergairah mengembangkan usahanya.

proses pembuatan benang kain tenun troso
proses pembuatan benang kain tenun troso

Proses Pembuatan Kain Tenun Troso

Awalnya pembuatan Kain Tenun troso menggunakan teknik tenun Gedok. Namun seiring berjalannya waktu, teknik pembuatannya berkembang menjadi tenun ikat. Cara pembuatannya pun menjadi semakin rumit. Diawali dengan proses ngeteng plangkan, yaitu menyusun benang secara rapi dalam bentuk sejajar. Kemudian benang tersebut dikaitkan dengan plangkan atau rangkaian kayu berbentuk kotak yang disebut nali atau mengikat motif dengan tali rafia. Proses selanjutnya adalah proses penataan motif dan pemberian motif pada benang yang akan ditenun. Akhirnya proses penenunan dilakukan memakai alat tradisional, yaitu Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Hasilnya menjadi lembaran kain seperti sekarang yang sering disebut masyarakat dengan nama Tenun Troso.

Grosir kain batik Solo.

Untuk pemesanan atau informasi bisa sms atau whatsapp ke : 0822 6565 2222 Pak Muzakir.

Kami menyarankan menggunakan whatsapp untuk mempermudah dalam koordinasi. Baik gambar motif batik maupun pengiriman kelokasi Anda.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.